Hukum Bunga Bank dalam Islam

A. Pendahuluan.

Makna harfiyah dari kata Riba adalah pertambahan, kelebihan, pertumbuhan atau peningkatan. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Para ulama sepakat bahwa hukumnya riba adalah haram. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 130 yang melarang kita untuk memakan harta riba secara berlipat ganda.

B. Pokok Masalah.

Apakah bunga bank termasuk kategori riba? atau bagaimana hukum bunga bank dalam Islam?

C. Dalil-Dalil.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keharaman riba, diantaranya:

  • Surat Al-Baqarah, ayat 275:
    Orang-orang yang makan (mengambil) RIBA’ tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan RIBA’, padahal Alloh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan RIBA’. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil RIBA’), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Alloh. Orang yang kembali (mengambil RIBA’), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
  • Surat Ali ‘Imran, ayat 130:
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
  • Surat Ar-Rum, ayat 39:
    Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

D. Pendapat Ulama.

  • Jumhur (mayoritas/kebanyakan) Ulama’ sepakat bahwa bunga bank adalah riba, oleh karena itulah hukumnya haram. Pertemuan 150 Ulama’ terkemuka dalam konferensi Penelitian Islam di bulan Muharram 1385 H, atau Mei 1965 di Kairo, Mesir menyepakati secara aklamasi bahwa segala keuntungan atas berbagai macam pinjaman semua merupakan praktek riba yang diharamkan termasuk bunga bank. Berbagai forum ulama internasional yang juga mengeluarkan fatwa pengharaman bunga bank.
  • Abu zahrah, Abu ‘ala al-Maududi Abdullah al-‘Arabi dan Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa bunga bank itu termasuk riba nasiah yang dilarang oleh Islam. Karena itu umat Islam tidak boleh bermuamalah dengan bank yang memakai system bunga, kecuali dalam keadaan darurat atau terpaksa. Bahkan menurut Yusuf Qardhawi tidak mengenal istilah darurat atau terpaksa, tetapi secara mutlak beliau mengharamkannya. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Syirbashi, menurutnya bahwa bunga bank yang diperoleh seseorang yang menyimpan uang di bank termasuk jenis riba, baik sedikit maupun banyak. Namun yang terpaksa, maka agama itu membolehkan meminjam uang di bank itu dengan bunga.
  • Dr. Sayid Thantawi yang berfatwa tentang bolehnya sertifikat obligasi yang dikeluarkan Bank Nasional Mesir yang secara total masih menggunakan sistem bunga, dan ahli lain seperti Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan mengatakan, “Perkataan yang benar bahwa tidak mungkin ada kekuatan Islam tanpa ditopang dengan kekuatan perekonomian, dan tidak ada kekuatan perekonomian tanpa ditopang perbankan, sedangkan tidak ada perbankan tanpa riba. Ia juga mengatakan, “Sistem ekonomi perbankan ini memiliki perbedaan yang jelas dengan amal-amal ribawi yang dilarang Al-Qur’an yang Mulia. Karena bunga bank adalah muamalah baru, yang hukumnya tidak tunduk terhadap nash-nash yang pasti yang terdapat dalam Al-Qur’an tentang pengharaman riba
  • Pendapat A. Hasan, pendiri dan pemimpin Pesantren Bangil (Persis) berpendapat bahwa bunga bank seperti di negara kita ini bukan riba yang diharamkan, karena tidak bersifat ganda sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Ali Imran ayat 130.
  • Menurut musyawarah nasional alim ulama NU pada 1992 di Lampung, para ulama NU tidak memutus hukum bunga bank haram mutlak. Memang ada beberapa ulama yang mengharamkan, tetapi ada juga yang membolehkan karena alasan darurat dan alasan-alasan lain.
  • Hasil rapat komisi VI dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-27 Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menetapkan, bunga perbankan termasuk riba sehingga diharamkan.

E. Analisa.

Larangan al-Qur’an terhadap pengambilan riba adalah jelas dan pasti. Sepanjang pengetahuan tidak seorang pun mempermasalahkannya. Tetapi pertentangan yang ditimbulkan adalah mengenai perbedaan antara riba dan bunga. Salah satu mazhab pemikiran percaya bahwa apa yang dilarang Islam adalah riba, bukan bunga. Sementara suatu mazhab pemikiran lain merasa bahwa sebenarnya tidak terdapat perbedaan antara riba dan bunga. Karena itu pertayaan pertama yang harus dijawab adalah apakah ada perbedaan antara riba dalam al-Qur’an dan bunga dalam dunia kapitalis.

Menurut para ulama fiqih, riba dibagi menjadi 4 (empat) macam:

  1. Riba Fadhl, yaitu tukar menukar dua barang yang sama jenisnya dengan tidak sama timbangannya atau takarannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan. Contoh: tukar menukar dengan emas, perak dengan perak, beras dengan beras, gandum dan sebagainya.
  2. Riba Qardh, yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan bagi orang yang meminjami/mempiutangi. Contoh : Andi meminjam uang sebesar Rp. 25.000 kepada Budi. Budi mengharuskan Andi mengembalikan hutangnya kepada Budi sebesar Rp. 30.000. maka tambahan Rp. 5.000 adalah riba Qardh.
  3. Riba Yad, yaitu berpisah dari tempat sebelum timbang diterima. Maksudnya: orang yang membeli suatu barang, kemudian sebelumnya ia menerima barang tersebut dari sipenjual, pembeli menjualnya kepada orang lain. Jual beli seperti itu tidak boleh, sebab jual-beli masih dalam ikatan dengan pihak pertama.
  4. Riba Nasi’ah, yaitu tukar menukar dua barang yang sejenis maupun tidak sejenis yang pembayarannya disyaratkan lebih, dengan diakhiri/dilambatkan oleh yang meminjam. Contoh : Rusminah membeli cincin seberat 10 Gram. Oleh penjualnya disyaratkan membayarnya tahun depan dengan cincin emas seberat 12 gram, dan jika terlambat satu tahun lagi, maka tambah 2 gram lagi menjadi 14 gram dan seterusnya.

Jika kita melihat pengertian riba yang tercantum dalam surat al-Rum ayat 39, “riba adalah nilai atau harga yang ditambahkan kepada harta atau uang yang dipinjamkan kepada orang lain.” Maka bunga bank sama dengan riba. Oleh karena itu wajarlah jika MUI dan OKI mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah haram. Namun begitu, hukum Islam sangatlah fleksibel. Artinya bagi Anda yang tinggal di daerah dimana tidak ada bank syariah seperti di NTT misalnya, sementara transaksi perbankan sangatlah krusial bagi bisnis Anda, maka hukumnya menjadi makruh. Hukum Islam itu gampang untuk dijalankan tapi jangan digampangkan.

Demikianlah tulisan artikel singkat tentang Hukum Bunga Bank dalam Islam. Semoga bermanfaat. Jika Anda menyukai artikel ini, mohon share dengan memberikan like, twit atau komentar Anda di bawah ini agar dapat menjadi referensi bagi teman jejaring sosial Anda. Terima kasih.

  • hukum bunga bank
  • bunga bank menurut islam
  • hukum bunga bank dalam islam
Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Hukum Bunga Bank dalam Islam

  1. deden says:

    Lantas kalau bukan dari bunga… keuntungan bank diperoleh dari mana?

    Denda dan bunga berlipat ganda yang diharamkan karena dapat memberatkan dan menimbulkan masalah bagi kedua belah pihak; sementara bunga/fee atas jasa yang diberikan menurut saya hal itu sah-sah saja, karena sudah disepakati sejak awal oleh para pihak.

    Adapun dalil secara umum:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”[An-Nisa : 29]

  2. Hamud says:

    Saya ingin bertanya lebih dalam mengenai riba dan bungs yang ustadz uraikan diatas. Tentunya dalam konteks saat ini di mana peran bank dalam kehidupan sehari-hari sangat penting (baik bank yang konvensional maupun yg berbasis syariah). Dunia pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa bank dan tugas bank bukan hanya mencari bunga tetapi juga menanggung resiko dari kegagalan debiturnya membayar utang (lihat saja waktu krisis moneter 97-98 lalu di mana hampir semua bank di Indonesia bangkrut). Hal yang sama juga terjadi pada krisis yang sama terjadi di Eropah dan Amerika pada tahun 2008 lalu!
    Jadi bunga dan riba memang harus dilihat dengan cara berbeda. Riba yang dimaksud Al Quran (mungkin) adalah bunga yang mencekik, jadi berbeda dengan bunga bank yang ada saat ini, yang bahkan terus menerus berusaha ditekan (di negara maju seperti AS pinjam uang untuk beli rumah dengan tenor 30 tahun hanya berbunga antara 5 – 8 per tahun). Bahkan belakangan ini Bank Sentral di beberapa negara (seperti Jerman dan Jepang) memperkenalkan bunga negatif artinya yang menyimpan uang di Bank Sentral yang harus membayar “fee” untuk menyimpan uang.
    Dunia modern tidak bisa hidup tanpa bank (baik konvensional maupun syariah). Karena bank berperan untuk memungkinkan orang berusaha dan menciptakan lapangan kerja (yang akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakan karena memberikan nafkah bagi pekerja). Bunga yang ditetapkan bank sekarang tidak lebih hanya sekedar “upah” untuk bank untuk berani mengambil resiko untuk meminjamkan uang. Bank syariah sekarang juga sebenarnya menerapkan imbal hasil yang sebenarnya tidak banyak berbeda dengan bunga (misalnya kalau mau beli mesin dengan pembiayaan dari bank syariah, bank syariah akan membelikan dan kemudian menyerahkannya kepada nasabah dengan menaikkan harga jualnya yang akan menjadi imbalan untuk bank syariah).
    Salah satu contoh riba adalah apa yang dialami oleh para supir taksi Express. Menurut wawancara saya dengan beberapa supir taxi ini, di beberapa pool taxi Express ada beberapa orang (inang-inang) di pool mereka yang meminjamkan uang kepada para supir taxi. Inang-inang ini meminjamkan uang untuk sang supir beli bensin di pagi hari (biasanya 100 ribu) dengan janji sore hari (setelah supir pulang) akan dikembalikan Rp. 110 ribu kepada inang-inang yang meminjamkan uang tersebut atau 10 persen untuk pinjaman kurang dari 24 jam! Inilah yang disebut riba.
    Bagaimana pendapat Bapak Ustadz mengenai bunga dan riba yang uraikan di atas?

  3. Hamud says:

    Saya ingin bertanya lebih dalam mengenai riba dan bungs yang ustadz uraikan diatas. Tentunya dalam konteks saat ini di mana peran bank dalam kehidupan sehari-hari sangat penting (baik bank yang konvensional maupun yg berbasis syariah). Dunia pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa bank dan tugas bank bukan hanya mencari bunga tetapi juga menanggung resiko dari kegagalan debiturnya membayar utang (lihat saja waktu krisis moneter 97-98 lalu di mana hampir semua bank di Indonesia bangkrut). Hal yang sama juga terjadi pada krisis yang sama yang terjadi di Eropah dan Amerika pada tahun 2008 lalu!
    Jadi bunga dan riba memang harus dilihat dengan cara berbeda. Riba yang dimaksud Al Quran (mungkin) adalah bunga yang mencekik. Jadi berbeda dengan bunga bank yang ada saat ini, yang bahkan terus menerus berusaha ditekan (di negara maju seperti AS pinjam uang untuk beli rumah dengan tenor 30 tahun hanya berbunga antara 5 – 8 per tahun). Bahkan belakangan ini Bank Sentral di beberapa negara (seperti Jerman dan Jepang) memperkenalkan bunga negatif artinya yang menyimpan uang di Bank Sentral yang harus membayar “fee” untuk menyimpan uang.
    Dunia modern tidak bisa hidup tanpa bank (baik konvensional maupun syariah). Karena bank berperan untuk memungkinkan orang berusaha dan menciptakan lapangan kerja (yang akhirnya memberikan manfaat bagi masyarakan karena memberikan nafkah bagi pekerja). Bunga yang ditetapkan bank sekarang tidak lebih hanya sekedar “upah” untuk bank untuk berani mengambil resiko untuk meminjamkan uang. Bank syariah sekarang juga sebenarnya menerapkan imbal hasil yang sebenarnya tidak banyak berbeda dengan bunga (misalnya kalau mau beli mesin dengan pembiayaan dari bank syariah, bank syariah akan membelikan dan kemudian menyerahkannya kepada nasabah dengan menaikkan harga jualnya yang akan menjadi imbalan untuk bank syariah).
    Salah satu contoh riba adalah apa yang dialami oleh para supir taksi Express. Menurut wawancara saya dengan beberapa supir taxi ini, di beberapa pool taxi Express ada beberapa orang (inang-inang) di pool mereka yang meminjamkan uang kepada para supir taxi. Inang-inang ini meminjamkan uang untuk sang supir beli bensin di pagi hari (biasanya 100 ribu) dengan janji sore hari (setelah supir pulang) akan dikembalikan Rp. 110 ribu kepada inang-inang yang meminjamkan uang tersebut atau 10 persen untuk pinjaman kurang dari 24 jam! Inilah yang disebut riba.
    Bagaimana pendapat Bapak Ustadz mengenai bunga dan riba yang uraikan di atas?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.